Rabu, 30 November 2016

Proposal Penelitian Sejarah - Smanisda

PEREKONOMIAN INDONESIA PADA MASA PEMERINTAHAN PRESIDEN SOEHARTO TAHUN 1997-1998



PROPOSAL PENELITIAN















Salwa Zayyani El Haq
X IPS 2
28







DINAS  PENDIDIKAN  KABUPATEN  SIDOARJO
SMA  NEGERI  1  SIDOARJO
2016 



A.    Latar Belakang Masalah
Awalnya ada yang disebut “Ordebarunomics” yang hidup di zaman Soeharto. Ini ditandai oleh laju pertumbuhan yang cukup tinggi, pembangunan infrastruktur sampai ke daerah, pendidikan sekolah dasar yang luas, industry manufuktur yang maju, keamanan dan ketertiban yang teratur.[1]
 Sejak kemerdekaan hingga saat ini, Indonesia telah mengalami beberapa fase.Salah satunya adalah zaman pemerintahan orde baru hingga Presiden Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya.Pada pemerintahan ini,dapat dikatakan bahwa ekonomi Indonesia berkembang pesat. Dengan kembali membaiknya hubungan politik dengan negara-negara barat dan adanya kesungguhan pemerintah untuk melakukan rekonstruksi dan pembangunan ekonomi,maka arus modal mulai masuk kembali ke Indonesia. Meningkatnya Gross Domestic Product (GDP) dari 70 dollar AS pada tahun 1968 menjadi 1.565 dollar AS pada tahun 1996. Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun) berjalan dengan baik. Di bawah pemerintahannya pula Indonesia mengalami swasembada beras pada tahun 1984. Lonjakan ekonomi Indonesia pada saat itu membuat Indonesia masuk ke dalam kelompok negara-negara industri baru dan mendapat julukan sebagai Macan Asia.[2]
Kebijakan-kebijakan ekonomi masa orde baru memang telah membuat pertumbuhan ekonomi meningkat pesat, akan tetapi, sistem-sistem tersebut tidak dapat bertahan karena KKN-nya mengganas, perusahaan besar BUMN menjadi sapi perahan bagi yang berkuasa, konglomerat China dan pribumi sama-sama rapuh karena menjadi besar hanya dengan kredit dari bank untuk membiayai proyek-proyek besar yang cash-flow-nya tidak tahan guncangan resensi, antara lain, karena overpricing biaya proyeknya. Peradilan rusak karena hanya melayani pihak yang bisa membayar dengan harga tertinggi[3] Krisis moneter Asia yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 dan kemarau terburuk dalam 50 tahun terakhir serta jatuhnya harga minyak dan gas dan komoditi ekspor lainnya, menjadikan Indonesia mengalami krisis keuangan dan ekonomi yang berat. Jatuhnya nilai rupiah, melonjaknya inflasi serta percepatan perpindahan modal membuat kepercayaan pemerintahan orde baru menurun drastis.[4]
Krisis pada tahun 1997 jauh lebih parah dan kompleks dibandingkan dengan krisis-krisis sebelumnya yang pernah dialami oleh Indonesia. Hal ini terbukti dengan mundurnya Soeharto sebagai presiden, kerusuhan Mei 1998, hancurnya sektor perbankan dan indikator-indikator lainnya, baik ekonomi, sosial, maupun politik. Faktor-faktor yang diduga menjadi penyebab suatu krisis moneter yang berubah menjadi krisis ekonomi yang besar, yakni terjadinya depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS lebih dari 200% dan berlangsung dalam jangka waktu yang panjang. Pada zaman pemerintahan Soeharto,Maka dari itu, penulis akan melakukan penelitian mengenai Permasalahan Perekonomian Pada Masa Pemerintahan Presiden Soeharto Tahun 1997-1998.

B.     BATASAN MASALAH
Pokok permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah apa dan bagaimana penyelesaian permasalahan ekonomi yang terjadi pada masa pemerintahan Soeharto tahun 1997-1998 dan bagaimana tanggapan pemerintah dalam menangani permasalahan-permasalahan ini
Mengenai batasan temporal, masalah apa saja dan bagaimana penyelesaian pemerintah dalam masalah ini. Akan tetapi, penulis memfokuskan pada tahun 1997-1998 karena  pada masa itu banyak sekali permasalahan ekonomi di Indonesia. Sedangkan batasan spasial dalam proposal ini terfokuskan di Indonesia.
C.     RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana kondisi ekonomi di Indonesia pada tahun 1997-1998?
2.   Permasalahan apa saja yang terjadi di Indonesia tahn 1997-1998?
3.   Bagaimana tindakan pemerintah terhadap masalah yang terjadi?

D.    TUJUAN PENELITIAN
1.      Untuk mengetahui kondisi ekonomi di Indonesia pada tahun 1997-1998
2.   Untuk mengetahui permasalahan apa saja yang terjadi di Indonesia tahun 1997-1998
3.   Untuk mengetahui tindakan apa saja yang diambil pemerintah terhadap masalah yang terjadi

E.     MANFAAT PENELITIAN
a.       Bagi penulis : Menambah wawasan mengenai keadaan perekonomian di Indonesia.
 b.      Bagi pembaca : Bahan pustaka dan menambah pengetahuan.

F.     KAJIAN PUSTAKA
Kajian pustaka mempunyai arti, peninjauan kembali pustaka-pustaka yang terkait di dalam suatu karya ilmiah. Hal ini dimaksudkan supaya penulis dapat memperoleh data atau informasi yang selengkap-lengkapnya mengenai permasalahan yang dikaji. Kajian pustaka atau teori yang menjadi landasan pemikiran.

Buku yang menjadi kajian pustaka dalam penulisan proposal ini antara lain adalah Indonesia dalam Arus Sejarah jilid 8 karya Taufik Abdullah dan Zuhdi  Susanto. Selain itu, penulis juga menggunakan buku Bila Kapal Punya Dua Nakhoda: Esai-esai Ekonomi-Politik Masa Transisi karya Mohammad Sadli. Dari kedua buku tersebut, penulis mendapatkan informasi mengenai permasalahan-permasalahan apa saja yang terjadi dan krisis moneter yang terjadi pada tahun 1997-1998.

G.    METODE PENELITIAN
Metode adalah suatu prosedur untuk mengetahui sesuatu yang memiliki  langkah-langkah yang sistematis. Metode yang digunakan dalam proses ini antara laim  metode  historis, yaitu proses  menguji  dan  menganalisis  secara  kritis  rekaman  dan  peninggalan  masa  lalu  yang  diperoleh.[5]
1.      Pemilihan Topik
Menentukan permasalahan yang akan  dikaji. Topik yang dipilih adalah  kesejarahan yang workable, yaitu  dapat diselesaikan  dalam  waktu  yang  tersedia.  Pemilihan topik akan diimbangi  faktor pendukung  untuk  menyelesaikan  penelitian.  Faktor tersebut ialah  minat  dan kemampuan penulis  untuk  menyelesaikan  penelitian.
2.      Heuristik
Pengumpulan sumber tertulis maupun lisan yang relevan dengan tema penelitian. Berupa buku,  jurnal penelitian,  laporan penelitian.
a.       Sumber sekunder

Sumber yang berasal dari kesaksian dari saksi orang lain.[6] Penulis menggunakan sumber sekunder yaitu dengan kajian pustaka yang ada dan setara dengan permasalahan karena  keterbatasan waktu  dan  kesulitan  mendapatkan  saksi  hidup  untuk  diwawancararai. Contoh sumber sekunder yang digunakan penulis antara lain adalah Indonesia Dalam Arus Sejarah jilid 8 (Orde Baru dan Reformasi) karya Taufik Abdullah, dkk. diterbitkan di Jakarta tahun 2011 penerbit Ichtiar Baru van Hoeve dan buku Bila Kapal Punya Dua Nakhoda: Esai-esai Ekonomi-Politik Masa Transisi karya Mohammad Sadli diterbitkan di Banten tahun 2002 penerbit Alvabet.

3.      Kritik Sumber  (Verifikasi)
Hal ini dilakukan untuk melihat tingkat otentisitas (keaslian  sumber)  dan  tingkat  kredibilitas sehingga terhindar dari kepalsuan.
a.       Kritik Dalam
Untuk  menyaring  kualitas  keterangan  yang  didapat  dari  sumber  sejarah  dimana dilakukannya (cross check). Dalam  hal  ini penulis membandingkan  antara  keterangan  dari  satu buku dengan  buku  lainnya kemudian  memilih  keterangan yang paling  banyak  disampaikan  oleh  informan dalam buku  tersebut
b.      Kritik Luar
Menguji otentisitas asli tidaknya suatu sumber yang dipakai untuk  menetapkan keaslian sumber sejarah. Dengan menyeleksi data akan  memperoleh satu fakta.
4.      Interpretasi
Menafsirkan fakta-fakta yang telah diuji kebenarannya,  kemudian  menganalisa  sumber yang pada akhirnya akan menghasilkan suatu rangkaian peristiwa. Dalam  tahap ini penulis dituntut untuk mencermati dan mengungkapkan fakta yang diperoleh  dan hubungan antara satu fakta dengan fakta yang lain. Di dalam interpretasi perlu  dilakukannya analisis untuk mengurangi unsur subjektivitas. Karena sejarah selalu  terpengaruh oleh  jiwa,  zaman, kebudayaan, pendidikan, lingkungan sosial, dan  agama  yang melingkupi penulisannya. Untuk itu analisis sumber perlu dilakukan dengan  menjelaskan fakta yang ada atau menguraikan informasi dan mengkaitkannya dengan lainnya. Sehingga rekonstruksi sejarah  harus  menghasilkan  sejarah  yang  benar atau  mendekati kebenarannya. 
5.      Penulisan Sejarah (Historiografi)
Tahap akhir dalam penulisan sejarah. Dalam tahap ini memerlukan  kemampuan  tertentu untuk menjaga standar mutu cerita sejarah, misalkan dengan  prinsip  sterialisasi  (cara membuat urutan peristiwa)  yang  memerlukan  prinsip  korologi  (urutan  waktu),  prinsip kaukasi (hubungan sebab akibat), dan bahkan juga kemampuan imajinasi untuk menghubungkan  peristiwa  sejarah  satu  dengan  yang  lain  menjadi  suatu  rangkaian  yang masuk akal dengan bantuan pengalaman.  Jadi, membuat semacam analogi antara peristiwa diwaktu yang lampau dengan tindakan yang telah kita saksikan dengan mata kepala sendiri diwaktu sekarang, terutama bagi peristiwa-peristiwa yang sulit dicari dasar kronologi dan kaukasi dalam penghubungnya.



H.    SISTEMATIKA PENULISAN
Penyajian penelitian dalam bentuk tulisan ini diperlukan adanya sistematika  penulis yang dituangkan dalam tiga bab, dan setiap bab terdiri dari beberapa sub  bab
1.      BAB I     : Pendahuluan, meliputi: latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan     penelitian, kajian pustaka, metode penelitian, dan sistematika penulisan.
2.      BAB II  : Pembahasan meliputi: Peranan pemerintah untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang terjadi, dan kondisi perekonomian Indonesia pada akhir pemerintahan presiden Soeharto setelah terjadi permaslahan-permaslaahan tersebut.
3.      BAB III  : Penutup meliputi simpulan dan saran.




Daftar Pustaka
Abdullah, Taufik dan Zuhdi, Susanto. 2011. Indonesia Dalam Arus Sejarah: Jilid 8 (Orde Baru dan Reformasi). Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve
Gottschalk, Louis. 1985. Mengerti  Sejarah. Diterjemahkan oleh: Nugroho  Notosusanto. Jakarta:  Universitas  Indonesia
Sadilly, Mohammad. 2002. Bila Kapal Punya Dua Nahkoda: Esai-Esai Ekonomi Politik Masa Transisi. Banten: Alvabet
Widya, I.G. 1989. Sejarah Lokal Suatu Perspektif Dalam Pengajaran Sejarah. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan





[1] Sadilly, Mohammad. 2002. Bila Kapal Punya Dua Nahkoda: Esai-Esai Ekonomi Politik Masa Transisi. Banten: Alvabet. (hlm. 9)
[2] Abdullah, Taufik dan Zuhdi, Susanto. 2011. Indonesia Dalam Arus Sejarah: Jilid 8 (Orde Baru dan Reformasi). Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve. (hlm. 114-115)
[3] Sadilly, Mohammad. 2002. Bila Kapal Punya Dua Nahkoda: Esai-Esai Ekonomi Politik Masa Transisi. Banten: Alvabet. (hlm. 9)
[4] Abdullah, Taufik dan Zuhdi, Susanto. 2011. Indonesia Dalam Arus Sejarah: Jilid 8 (Orde Baru dan Reformasi). Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve. (hlm. 115)
[5] Gottschalk, Louis. 1985. Mengerti  Sejarah. Diterjemahkan oleh: Nugroho  Notosusanto. Jakarta:  Universitas  Indonesia. Hal.  29
[6] Widya, I.G. 1989. Sejarah Lokal Suatu Perspektif Dalam Pengajaran Sejarah.Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Hal. 18.